Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Keeksotisan yang Terlupakan

Merah, hijau, biru, putih, hitam... F-potretgembong.
Dahulu kala, puluhan tahun silam, aku sering ke sini. Teman-temanku juga menjadikan tempat ini, kadang untuk sekadar bertemu. Ada air yang tenang, dermaga papan kayu yang di beberapa tempat lapuk sehingga harus hati-hati melangkah, rumput liar yang tumbuh di tepinya, rerimbunan pohon di batas cakrawalanya dan pesona karya agung Sang Pencipta. Kami menyebutnya Wadul Seloromo.

Ada masa di mana aku harus diam-diam datang ke tempat ini, biasanya saat air waduk yang mulai meluap harus dikuras. Waduk buatan Belanda yang dibangun oleh buruh-buruh warga Indonesia ini memang selalu ramai ketika dikuras. Ada alasan bapak ibuku melarang aku nonton prosesnya, karena semburan air yang kencang keluar dari pintu-pintu pembuangan. Padahal, di situlah indahnya. Beberapa orang sibuk menangkap ikan, berkecimpung dalam lumpur. Ikan yang nakal menggeliat, melompat, seakan enggan untuk masuk perangkap warga. Karena akhir dari nasib mereka hanya satu: wajan penggorengan.

Tegak menantang gunung, karya Sang Maha Agung.
Lalu semalam tiba-tiba saja nomor ponselku nongkrong di daftar anggota grup sebuah media sosial. Rupanya beberapa teman SMP berinisiatif membentuk grup sebagai jembatan yang terputus puluhan tahun antara kami. Dan seperti biasa, seperti tutup tabung berisi air, begitu dibuka bermunculan komentar. yang serius, yang biasa saja, yang malu-malu, yang membuat ngakak, yang diam-diam membaca. Ramai. Sekali. Padahal anggotanya baru belasan orang.

Tempat tinggal mereka pun tak lagi di desa-desa di Kecamatan Gembong. Ada yang bersama keluarganya merantau ke luar negeri, di luar provinsi, meski tak sedikit yang tetap tinggal di Gembong dan masih bisa mengencani pesona Waduk Seloromo. Aku mengistilahkan waduk ini sebagai sebuah keeksotisan alam. Ya karena jarak yang jauh dari tempatku saat ini bertempat tinggal, Waduk Seloromo hanya sebatas ingatan. Ada sesuatu yang tak bisa terlepas begitu saja dari hati, meski kini jauh.


I love you too. F-mekarsari
Kenangan itu melekat, memagut erat. Bagaimana  dahulu aku bersama teman-teman SMP duduk di teras rumah orang tua mereka yang lokasinya persis di bibir waduk. Zaman dahulu, mungkin aku dan mereka tak pernah memikirkan betapa indahnya memiliki rumah di dekat air. Sesuatu yang harus disyukuri. Atau sekadar jajan pisang goreng di warung yang ada. Menikmati angin waduk dari atas roda.

Waduk Seloromo masih tetap eksotis. Dilansir direkrotipatidotcom, Waduk Seloromo mulai digagas Pemerintah Belanda pada tahun 1930. Pejabat kolonial dari negara yang dikenal hebat soal bangunan batu ini menginginkan bendungan air yang sekaligus mampu mengairi kebun-kebun tebu yang berada di daerah lebih rendah di sekitarnya.

Konon, asal usul Seloromo dari kata Selo dan Romo. Selo adalah Bahasa Jawa halus dari batu, Saat pembangunan ada batu besar di tengah lokasi bakal waduk yang tak bisa dihancurkan bahkan oleh teknologi modern pada zaman itu. Lalu Romo adalah sebutan halus untuk orangtua lelaki. Entah apa kaitannya sehingga Selo dan Romo disatukan dan menjadi Seloromo. Apakah para Romo yang mampu menghancurkan batu tadi atau bagaimana, aku belum menemukan referensi.

Hanya untuk dikenang?
Air adalah benda yang selalu menarik untuk dijadikan teman. Bagaimana orang-orang kaya membangun taman di rumah mereka dengan biaya yang tidak kecil, hanya untuk menghadirkan nuansa alami lewat tetumbuhan dan gemericik air dari pancuran buatan. Air bahkan menjadi objek penelitian para ilmuwan. Masaro Amoto dari jepang misalnya, mempelajari perilaku air saat diperlakukan secara baik atau seenaknya. Baik miaslnya berdoa dahulu sebelum minum air putih.

Air juga mengisi akuarium yang bisa menyedot jutaan turis. Kita tentu tahu akuarium-akuarium raksasa di dunia. Aquarium of Western Australia (AOWA), Perth, Australia; AquaDom, Berlin, Jerman; Ushaka Marine World, Durban, Afrika Selatan; TurkuaZoo, Istanbul, Turki dan Okinawa Churaumi Aquarium, Okinawa, Jepang. Betapa air bisa menjadi objek wisata yang sangat layak dijual. Sementara bagi warga biasa pun masih bisa menikmati kedamaian hati lewat memandang lalu lalang ikan di akuarium kecil di sudut ruangan.

Jalan setapak, pepohonan, air, menyatu.
F-mekarsari.
Tentu jauh untuk menyamakan Waduk Seloromo dengan akuarium-akuarium papan atas tadi. Namun intinya satu, air adalah objek yang menarik. Paling tidak akan muncul kesadaran dari manusia untuk melestarikan keberadaannya, termasuk Waduk Seloromo.

Aku pasti akan senang jika Waduk Seloromo menjadi salah satu destinasi wisata di Kabupaten Pati. Zaman yang semakin maju, menjadikan sebuah tempat sebagai viral di internet, kini bukan lagi hal yang sesulit dahulu. Dan aku yakin teman-teman bermainku saat itu pun memiliki pemikiran yang sama dengan aku. Informasi tentang Waduk Seloromo kini bisa kudapatkan dari teman-temanku di grup. Memang sebatas foto, foto kamera, namun sudah cukup untuk mengurangi banyaknya pertanyaan akan Waduk Seloromo. Kulihat foto-fotonya, tetapi maaf aku tidak berbincang dengan foto. Nanti dikira hahahaha. Teman-temanku yang baik pasti akan selalu mengabarkan kabar terbaru dari waduk yang melegenda bagiku itu.

Berharap suatu saat nanti masih bisa menikmati suasana Waduk Seloromo bersama teman-temanku. Kembali ngobrol tentang kehidupan. Saling berbagi ide dan gagasan. Semoga.

Post a Comment for "Keeksotisan yang Terlupakan"