Malam Berkesan Denganmu
Postinganku belakangan soal asmara. Karena cinta adalah bagian dari kehidupan. Namun mungkin aku mahluk langka, karena yang kupilih untuk menjadi video di postinganku kali ini bukanlah lagu cinta terbaru, atau yang tengah hits. Karena pikirku, cinta itu ya seperti itu. Dari zaman buyut kita sampai nanti anak cucu kita. Mungkin pengungkapannya yang berbeda. Cintanya sendiri ya seperti itu. Kalau Anda tengah cinta monyet, cinta pandangan pertama, cinta komodo bahkan cinta badak atau kuda nil tentu menjadi urusan Anda.
Terbukti lagu cinta yang paling banyak disukai. Meski aku belum tua tua amat, biarlah video ini yang kupasang. Sebenarnya aku ingin menyimpan cerita ini sendiri. Kalau pun akhirnya kupilih blog sebagai wadahnya, ya karena sekali lagi kupikir teknologi ini akan tetap ada selama internet diperbolehkan di dunia ini. Wallahu A'lam kalau nanti nasibnya seperti Yahoo. Kalau kutulis di kertas, takutnya saat atap kamarku bocor akan hilang tulisanku. Paling tidak rusak. Kalau kusimpan di kepala, khawatir lama lama tergeser oleh pikiran akan kebutuhan hidup yang semakin meninggi.
Yap, kubuat surat itu. Tak ada wangi kertasnya. Sampulnya juga bekas halaman majalah yang kulipat, kulem, seadanya. Padahal isinya sangat bermakna. itulah akhir keberanianku untuk mengungkapkan hati. Dua tahun di SMA memendam cinta, gimana rasanya. Pasti ada sekian detik atau menit selalu mengingatnya dalam sehari. Aneh, meski Senin sampai Sabtu ya berjumpa di sekolah, kelas yang sama. Bagi orang lain mungkin dia biasa saja, cantik sekali tidak, kurang menarik sekali juga bukan. Jangan nasihati aku soal pilihan paslnya jawabanku pasti membuat kalian mengerti. Karena... wajahku juga biasa saja hahahaha. Padahal zaman SMA penampilan fisik masih menjadi panduam tatkala mencari pacar.
Namun bagiku dia menarik. Menarik apa saja milikku ke dalam pesonanya. Rinduku, kangenku, cintaku, asmaraku, puisiku, laguku, langkahku, pikiranku, akalku. Suatu malam, kuantarkan surat itu ke rumahnya. Sendiri. Kuselipkan di dalam majalah remaja yang sengaja kubeli. Harapanku sederhana, seandainya ia menolak cintaku, ia akan membaca halaman demi halaman majalah itu. Siapa tahu ada artikel yang menyentuh hatinya lalu membuatnya mengubah keputusan. Maksudku, akhirnya ia jatuh cinta kepadaku juga.
Ku berdiri di bawah daun pintu rumahnya. Panggilan bapaknya tak langsung membuatnya keluar kamar. Sambil menunggu, aku duduk di bangku teras. Tak lama ia datang dan langsung bertanya. Dor... ibaratnya seperti itulah. Tak ada suara memasukkan peluru, mengokang baru menembak. Langsung bertanya ada tujuan apa. Aha, lelaki hijau ini ditantang. Kusodorkan majalah sambil mengatakan ada suratku untuknya. Tak kusangka ia langsung membukanya dan membacanya. Surat cintaku pendek karena bukan cerpen. Meski nilai pelajaran Bahasa Indonesaku selalu tinggi, tetapi untuk surat cintaku untuknya tak perlu kubuat dengan banyak kiasan. Blarrr... ibarat meriam langsung memuntahkan mesiu. Aku cinta kamu, itu saja intinya.
Aku tenang namun sejatinya hatiku berdegup. Lalu jawaban itu akhirnya keluar: ia minta maaf tak bisa memenuhi harapanku. Lelaki hijau tak butuh waktu berlama lama untuk meninggalkan rumah bidadari yang malam itu duduk tanpa ekspresi.
Sepuluh tahun lebih, aku baru tahu bahwa baginya surat cintaku adalah surat pertamanya. Akulah lelaki hijau yang berani memberinya surat secara langsung. Datang sendiri, bertanya kepada bapaknya yang tengah santai di ruang tamu, menyodorkan surat dan menunggu jawabannya. Ah, aku jadi bangga. Selama itu waktu membatasi, ternyata akhirnya bertemu. Dan ia pada suatu hari mengirimkan foto suratku dulu, masih terbaca secara jelas isinya. Padahal ia mengaku selesai kuliah membakar semua surat dan kertas kertas yang dianggapnya tak berguna lagi. Dan surat cinta pertamanya dari lelaki sampai kelas tiga SMA milikku selamat dari aksi bakar bakaran itu.
Malam itu sebenarnya berkesan, nembak dan ditolak. Dan kesabaran mendatangkan buah, silakan ditebak sendiri endingnya...
Post a Comment for "Malam Berkesan Denganmu"