Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Engkau Terjatuh dan Pergi

Kuusap wajahmu dengan usapan kulit tangan, penuh perasaan. Engkau menatap ke samping, ke arah sudut meja yang catnya tak lagi baru. Ada garis garis bekas pisau di sana sini, lalu tepat di tepi masih menyisakan noda gosong. Ya, dinda, maafkan kalau aku masih sering sembrono meletakkan batang rokok dengan ujung terbakar di tepi meja.

Kutatap sebelah keningmu, sebelah daun telingamu, separoh rambutmu, lancip dagumu dan tipis bibirmu. Lalu ada hidung yang tak mancung namun membuatku gemas. Kuentuh ujungnya, kuharap engkau merasa geli lalu memalingkan wajahmu. Sehingga wajah kita berhadapan. Atau lebih indah wajahku di atas wajahmu. Pasti hembusan nafasmu melati, yang mampu mengguyur hati yang lebih banyak merasa gundah. Dan binar matamu mentari, ada sinar yang selalu memencar dari sana. Seperti bola semangat yang membakar hatiku untuk selalu mencintaimu.


Dan lentik bulu matamu, aku tahu itu asli. Tak perlu membeli bulu mata Syahrini agar kamu tampil cantik. Cukup bulu mata yang sudah ditanamkan Tuhan sejak engkau lahir. Dan saat angin nakal yang bertiup masuk ke ruangan kita melalui jedela berkusen kayu menyibakkan anak rambutmu, kurapikan dengan ujung ujung jariku. Tetapi biarkan sajalah anak anak rambut itu turut menikmati cantik parasmu. Tak ada salahnya akuberbagi.

Bibirmu itu, jika kebanyakan orang menyebutnya sebagai ranum. Aku punya istilah sendiri yang mungkin hanya aku sendiri yang paham. Bagaimana jika kuberi istilah bibirmu nan cemokot adinda? Sebab setiap kali melihat bibirmu, ingin sekali aku menggigitnya (cokot, jawa). Seperti ada anak sungai mengalir di tengahnya, memberikan penawar haus kerinduan yang terpendam sekian lembar almanak. Tidak merah sangat, warna binir wanita negeriku. Coklat namun agak muda. Garis garis bibirmu adalah larik puisi. Indah sekali.

Engkau masih terdiam dengan posisi seperti semula. Saat ujung jari manisku menyentuh bagian bawah dagumu. Tak kah engkau rasakan ada hangat dalam elusan tangaku dinda? Atau mungkin rintik gerimis yang mulai turun membuatmu tak bergairah? Baiklah, kuambil gitar yang kubeli minggu lalu. Kupetik danaku menyanyikan lagu cinta yang selalu kunyanyikan tatkala sedang merindukanmu di berbagai musim. Saat musim dingin laguku memecah gunung es sehingga kulitmu terpapar matahri pagi. Saat musim panas laguku menyejukkan hatimu karena lirik liriknya yang membiru. Saat musim gugur laguku merontokkan dedaunan tua yang berwarna coklat tua, keriput dan tak kuat lagi berpegangan pada ranting, yang ada hanyalah dedaunan muda yang segar, hijau. Dan saat musik semi laguku adalah serbuh yang membuahi aneka kembang, mekar berwarna warni di pulau yang hanya kita huni berdua.

Atau aku harus menciummu dinda? Mungkin usapan tanganku masih dikalahkan rintik hujan yang kian melebat. Tunggu, kututup pintu kamarku. Hanya separo daun jendela yang kubiarkan terbuka, biar desahmu ditemani angin yang nakal menyelinap. Ah, angin terlalu kencang. Engkau terjatuh dan sepertinya harus pergi.

Kupungut lagi gambar siluet wajahmu di kertas gambar. Kulukis sekian lama namun tetap begitu dirimu. Kusapu debu lantai tanah kamarku yang coba mengotorimu. Kusimpanlagi siluet wajahmu dalam almari. Di atasnya kutumpuki setumpuk pakaian.

Post a Comment for "Engkau Terjatuh dan Pergi"