Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Ketika Cinta Mengajarimu

Hampir 40 tahun silam. Seorang siswi SMA di sebuah kota di Jawa Tengah kaget ketika ibunya memberitahu ada cowok menunggu di teras. Gadis tadi, sebut saja Melisa, pantas terkejut karena hingga kelas 3 SMA ia sama sekali tak pernah merasa punya teman cowok. Saat keluar ia melihat teman sekelasnya sudah duduk di bangku teras rumah orang tuanya.

Tanpa banyak basa-basi, karena pada dasarnya cowok tadi memang bukan tipe cowok idamannya, Melisa langsung saja bertanya ada apa malam-malam cowok tadi, sebut saja Paijo, datang. Dan tanpa banyak kalimat, Paijo memberikan sebuah majalah cerita remaja. Tetapi bukan majalah baru itu intinya. Di dalam lipatan majalah itu ada surat. Surat cinta.

F-internet
Melisa membukanya dan membacanya. Tak panjang isinya, hanya pengakuan bahwa Paijo mencintainya sungguh-sungguh. Tetapi perjuangannya malam-malam ternyata tak mendapatkan simpati dari Melisa. Apalagi itu urusan hati, urusan cinta. Apapaun istilahnya rasa suka yang muncul sewaktu masih remaja, mau cinta monyet, cinta babon atau cinta gorila sekalipun kalau memang tak cinta mau bilang apa. Hanya jawaban singkat diberikan kepada Paijo yang menunggu penuh harap.

Maaf aku tak bisa, kata Melisa.

Paijo pun pulang. Namun ada sesuatu di hatinya yang masih terikat kuat, ia tetap mencintai Melisa.

Sementara Melaisa hanya mampu tersenyum, ia menahan geli. Mengapa yang datang memberinya surat bukan sesosok cowok satu sekolah yang beda jurusan. Cowok yang membuatnya jatuh cinta namun tak mampu mengungkapkannya. Paijo jauh dibanding cowok idaman itu. Perbedan lain itu nomor sekian, yang pasti penilaian Melisa hanya satu, soal fisik. Ah, alangkah menyenangkan punya cowok berwajah manis, tinggi dan lain sebagainya. Biasa, orang jatuh cinta semuanya terlihat sempurna. Dan malam itu surat Paijo sangat tak berarti, meski disimpannya.


Memang keinginan manusia tak selalu sama dengan jalan Tuhan. Selama hampir 4 tahun menyelesaikan sarjananya, ia belum mendapatkan cowok idaman. Memang, di kampus ia naksir kakak angkatannya. Namun seperti waktu SMA, saat ia juga jatuh cinta dengan cowok satu sekolah, kali ini Melisa juga hanya mampu memendamnya. Paling saat berkumpul dengan temannya satu kos, sering memuji-muji kakak angkatan tadi. Dan rupanya bukan hanya Melisa yang mengidoalakan orang yang sama.

Lulus kuliah biasanya orang langsung bekerja. Namun Melisa kurang beruntung. Hingga empat tahun lamanya ia harus menunggu kabar baik itu datang, panggilan bekerja. Namun yang diterimanya panggilan wawancara, dan selepas itu tak ada kabar lagi. Bosan dengan rutinitasnya itu, Melisa main ke rumah kakaknya di luar kota, beda provinsi. Awalnya hanya ingin melepas kengan dengan keponakan-keponakannya. Namun justri di kota itu Melisa mendapatkan pekerjaan pertamanya.

Sambil bekerja, Melisa mencoba membuka hatinya. Teman satu kantor akhirnya menyatakan jatuh hati kepadanya. Melihat peluang dan tentu saja kesungguhan lelaki tadi, sebut saja, Fli, akhirnya Melisa melabuhkan hatinya. Ia tahu Fli sudah berkeluarga. Namun ia tak peduli karena Fli memang mencintainya. Fli juga bersedia mengantarnya pulang ke rumah kakaknya kalau kebetulan harus kerja lembur dan balik malam. Akhirnya hubungan ini tak bisa dipertahankan, ketika anak kedua Fli lahir. Sebuah jam tangan pemberian lelaki itu dibuang Melisa. Ia menutup hatinya untuk lelaki itu, meski beberapa tahun setelah pisah Fli masih mencoba menghubunginya.

Tak lama kemudian, saat Melisa pindah kerja ia kembali mendapatkan tautan hati. Cowok, lajang dan sudah mapan. Namun hubungan ini hanya bertahan beberapa bulan saja. Sebuah pengakuan dari lelaki kedua, sebut saja Dia, akhirnya membuat Melisa harus memutuskan untuk rela ditinggal.

Usia itu terus beranjak. Kembali Melisa mendapatkan tautan hati dari lelaki ketiga, sebut saja One. Seorang PNS yang punya gaji tetap. Bersama yang satu ini Melisa berharap hubungannya lancar. Namun ketika sebuah surat undangan dikirimkan kepadanya dari One, hatinya hancur. Sempat ia mau mendatangi hari pernikahan lelaki yang sudah membuatnya kecewa itu hanya untuk membisikkan kalimat: kamu memilih calon suami yang salah, kepada mempelai perempuan. Namun ia tak mampu melupakannya.

Ingin lebih mandiri, akhirnya Melisa pindah tempat. Ia memilih kontrak di dekat tempat kerjanya. Ia berharap kepindahannya ini membawa berkah. Ia berpikir, mungkin selama ini ia dan lelaki yang mendekatinya tak memiliki banyak privasi karena masih tinggal di rumah kakaknya.

Sebenarnya, saat jeda usai berpisah dengan One, ada seorang cowok yang usianya jauh lebih muda mengejar Melisa. Namun Melisa mencoba mengatakan tidak. Dari hubungannya terdahulu, semuanya memang usianya di bawah dirinya. Karena itulah usaha keras cowok keempat ini, sebutlah dia Fan, ditepisnya. Ia kapok menjalin hubungan dengan lelaki yang usianya lebih muda. Namun apalah daya pertahanannya ketika Fan dengan gigih mendekatinya, membantunya mencarikan kos-kosan.

Pada hubungannya yang kedua, sebenarnya Melisa sudah mulai mengubah sikapnya. Yang ia butuhkan hanya lelaki yang mencintainya apa adanya. Dengan Fan, Melisa memiliki banyak waktu untuk bersama. Melapas kerinduan dan membicarakan banyak hal. Namun sekali lagi, Melisa harus sakit hati kaetika Fan akhirnya juga mulai berulah. Ia tak lagi gampang dihubungi. Bahkan janji di tahun baru akhirnya dilewati Melisa seorang diri. Keputusannya meninggalkan Fan akhirnya diambil usai ia menyskaikan film berjudul He's Just Not That Into You yang dikeluarkan pada tahun 2009 silam.

Aku coba baca resensinya di internet, kurang lebih ceritanya: pria dan wanita ditakdirkan untuk memiliki 'alam' yang berbeda. Walaupun pria sudah mencari berbagai macam cara untuk bisa memahami wanita namun akhirnya tetap saja mereka tak pernah bisa benar-benar mengerti wanita dan begitu pula sebaliknya. Kesalahan penafsiran yang kadang terjadi sering kali membuat hubungan di antara keduanya jadi sesuatu yang menyakitkan tapi tak jarang juga salah penafsiran ini menjadi sesuatu yang konyol atau malah mengharukan.

Film ini menjelaskan apa yang bisa berubah dan apa yang tidak bisa berubah dari prinsip manusia ketika mereka diperhadapkan dengan yang disebut cinta atau kasih sayang. Nah film ini juga memecahkan sebuah mitos-mitos kecil bahwa pria yang suka mengganggu anda bukan berarti mengukai anda tetapi mungkin karena dia iseng dan orangnya agak bandel. 

Melisa memutuskan meninggalkan Fan. Ia tahu bahwa lelaki itu masih ingin bersamanya, namun Melisa tak ingin lagi berhubungan lelaki yang susah sekali dihubungi meski tinggal satu kota.

Melisa berpikir: semua lelaki sama saja. Dan ia sangat tak ingin menjalin hubungan lagi. Ia tak peduli usianya berapa, tak peduli. Ia menikmati hari-harinya sendiri. Lalu tiba-tiba ia ingat Paijo. Iseng-iseng ia browsing dan menemukan email cowok itu. Ia hanya kirim pesan, apakah itu email Paijo atau bukan. Dan sekian lama email itu tak ada balasan.

Adalah facebook yang akhirnya menemukan Melisa dan Paijo. Paijo yang sama sekali tak membuatnya tertarik saat SMA telah berubah menjadi lelaki yang matang pola pikirnya. Paijo mengakui semua kebodohannya: selama ini masih menyimpan rasa sayang untuk Melisa. Hanya ada satu kalimat dituliskan Melisa di pesan fecabook untuk Paijo: I'm sorry for my past mistake.

Cinta telah mengajari Melisa tentang cinta. Cinta itu butuh kesederhanaan, apa adanya. Melisa jatuh cinta dengan Psijo setelah pergulatannya melawan empat kisah cinta sebelumnya. Melisa menyadari, saat hari esok dibayangkan manusia, belum tentu seperti itu oleh Tuhan. Begitu Melisa dulu, sebelum memberikan kesempatan untuk Paijo ia sudah membayangkan cerita yang tidak asyik. Bahkan terkesan konyol. Ternyata dari Paijo ia tahu banyak hal yang harus diubahnya untuk menemukan cinta sejati.

Aku hanya bisa memetik hal penting tetapi sederhana dari cerita nyata yang disampaikan temanku dengan penggunaan nama samaran ini. Bisa jadi seseorang yang berada di sampingmua di peron terminal, di kursi ruang tungggu bandara adalah pasangan yang diberikan Tuhan. Andaikata kamu saat itu tersenyum, mungkin saja ceritamu tak harus berpanjang-panjang. Namun cinta memang harus belajar dengan segala pengorbanannya.

Post a Comment for "Ketika Cinta Mengajarimu"