Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kisah Seorang Pelarian

Foto ilustrasi-lensa indonesia.com
Sungguh, aku tak tahu namanya. Dia seorang lelaki berambut gondrong, kulit gelap dengan tato tersebar di kedua lengan tangannya. Tadi pagi litrik padam lagi, setelah semelam juga mati. Padam yang ke sekian kali belakangan ini. Aku tak bisa menyalakan mesin pompa air, saat air di bak mandi tinggal beberapa centimeter tingginya.

Dia pengantar air galon yang bekerja untuk orang lain. Tugasnya hanya mengantarkan, per galon ia mendapatkan Rp1.000 perak. Yang aku lihat dari lelaki yang usianya berkisar 30-an tahun ini adalah sikapnya yang selalu santai. Ia banyak bicara. Ramah menyapa pelanggannya. Ia tak ragu melepas selang gas (regulator) dan memasangkan dengan tabung baru. Demikian juga ketika tahu dua galon air minum yang aku pesan bukan untuk minum, melainkan mandi ia mengambil ember kosong dan menuangkannya.


Sambil mengerjakan pekerjaan hariannya itu, ia bercerita kalau sebenarnya ke Tanjungpinang adalah pelariannya. Pelarian apa aku tak ingin terlibat lebih jauh. Hanya saja ada beberapa hal yang membuat aku ingin menuliskannya di sini. Pertama, ia mengatakan hasil dari mengantar air galon tak cukup untuk memenuhi semua kebutuhannya di kota yang baru enam bulan didatanginya ini. Pernyataannya simpel: aku tak ingin terlihat menganggur.

Entah menjadikan pekerjaannya yang sekarang atau seperti apa, aku juga tak tahu. Prinsipanya sebagai perantau itu yang membuatku mengakui daya juangnya. Jika banyak perantau berpikir seperti dia, mungkin akan lebih nyaman bagaimana hebatnya orang kita menghadapi kemelut hidup. Padahal untuk mengantar air, motor sudah disediakan pemilik usaha.

Yang kedua, dia mengatakan hanya ingin menikmati kenyamanan hidup. Mungkin di kota yang ditinggalkannya, Pontianak, ia merasa tak nyaman. Dan dengan menjaga perasaan ini, ia senantiasa bersyukur. Aku salut saat ia membuka tutup galon mengucapkan bismillah dan selesai dengan alhamdulillah. Demikian juga saat akan menyalakan mesin motornya, ia mengucapkan kata pujian yang seangat mudah diucapkan tetapi begitu sering terlupa.

Ketiga, pengantar air yang memiliki kebiasaan mengenakan topi dibalik ini mengaku memiliki usaha juga di Pontianak. Usaha air isi ulang, seperti tempatnya bekerja saat ini. Sekarang usaha itu dikelola adiknya. Tiba-tiba saja ia mengatakan: aku tak ingin memburu kaya, bang. Saat aku tanyakan harusnya memiliki keinginan menjadi kaya, ia dengan tenang menjawab, dengan kondisinya seperti itu jika ia ingin cepat kaya takut menyalahgunakan kepercayaan yang diberikan bosnya. Mungkin juga ia akan melakukan perbuatan tercela hanya untuk mendapatkan uang lebih.

Namun dengan menjaga prinsip saat masih dalam kondisi sulit ia menerima dan syukur atas setiap rezeki yang diberikan Tuhan kepadanya, ia merasakan kehidupan yang nyaman. Lalu ia mengatakan, ia bisa menghitung pendapatannya per bulan dari pengantaran air ke rumah-rumah pelanggan. Jika memaksakan diri ingin cepat kaya, ia takut pikirannya terbelah dan tak mampu berpikir jernih.

"Punya televisi dan kulkas di kos-kosan saja sudah bersyukur, pulang kerja masih bisa menyaksikan berita dan acara lain," kata pengantar air ini.

Begitulah dia, sang pengantar air galon pagi tadi. Ketika masih menjaga usahanya sendiri di Pontianak, prinsipnya ingin mengajar kaya mungin saja terpatri. Jadi menurutku ia bisa menyesuaikan kondisi hidupnya dengan keinginannya. Ia mampu membatasi keinginan manusia yang tiada batasnya dengan kondisi nyata yang dihadapinya sekarang. Ia tak ingin seperti peribahasa seperti pungguk merindukan bulan. Tetapi ia akan tetap mempertahankan keinginannya menjelajah bulan ketika posisinya adalah seorang astronot.

Betapa sulitnya bersyukur kawan.....

Post a Comment for "Kisah Seorang Pelarian"