Kisah Kucing Berak
Kisah nyata ini aku peroleh ketika berbincang santai dengan seorang pendatang dari Yogyakarta: Mas Toni. Kejadiannya sudah 10 tahun lewat, tetapi rasanya terlewatkan jika hanya aku dengarkan.
Waktu itu Mas Toni masih ngontrak di Yogyakarta. Pegawai sebuah dealer mobil di Yogyakarta ini baru saja menikah dengan wanita idamannya yang saat itu tengah menuntut ilmu di Yogyakarta. Dari kecil, Mas Toni adalah pencinta kucing. Pernah suatu saat ia menemukan kucing liar terlindas sebuah kendaraan di jalan. Kakinya patah. Melihat hal itu Mas Toni memungutnya dan membawanya ke dokter hewan di kota pelajar ini.
Hanya kasih sayang terdalam yang mampu membuat seseorang mau melakukannya. Kecuali kucing itu peliharaannya di rumah. Ia keluarkan uang dari kantongnya sendiri untuk biaya operasi kaki kucing tersebut. Namun kecintaannya terhadap kucing belum dimiliki istrinya.
Suatu malam, saat hujan turun Mas Toni keluar rumah, sekadar menikmati malam di teras rumah kontrakannya. Tiba-tiba dilihatnya seekor kucing kesulitan mendapatkan tempat berteduh. Rumah di mana Mas Toni mengontrak adalah kawasan permukiman padat yang tak menyisakan tempat bagi kucing kurang beruntung itu mendapatkan tempat berteduh. Atau andai ia berteduh lebatnya hujan akan membasahi bulunya.
Hujan sedang deras-derasnya malam itu. Dengan berlari kecil Mas Toni mengambil kucing itu. Lalu diletakkannya di teras rumah kontrakannya. Paling tidak kucing itu tak kehujanan di lorong. Namun, saat ia hendaj menutup pintu, kucing itu tak menghentikan suaranya yang mengeong-ngeong. Rasa iba mengalahkan keinginan lelaki yang kini bekerja sebagai desainer perabotan lepas ini untuk kembali mengangkat kucing tadi. Di dalam rumah, kucing itu dilap dengan kain yang sudah tak terpakai.
Istrinya yang belum tidur melihat apa yang dikerjakan suaminya menunjukkan raut muka masam. Melihat kucing saja tak suka, apalagi ada kucing di dalam rumahnya. Kebetulan istri Mas Toni adalah tipe istri yang suka membersihkan rumah. Dan ia sangat tak menginginkan ada kucing di rumah kontrakannya. Mendengar jawaban suaminya hanya karena kasihan ia membawa kucing itu masuk, sang istri bertanya mau ditaruh di mana kucing itu.
Mas Toni menjawab biarlah ia di dalam rumah asalkan tidak kehujanan. Di dapur pun tak apa, tambahnya. Kemarahan sang istri seketika muncul. Ia mengultimatum, jika sampai kucing itu berak di dalam rumah, Mas Toni harus menghentikan kecintaannya terhadap hewan bernama kucing.
Itu adalah sebuah peringatan yang tak bisa dianggap sepele. Karena Mas Toni memang menyukai segala jenis kucing. Ia nekat membawa kucing itu ke dapur lalu masuk ke kamar tidur untuk istirahat. Tak berapa lama, sang istri yang usai memberikan ultimatum ingin buang air kecil. Betapa terkejutnya ia melihat kotoran kucing di dalam kamar kecil keluarganya. Ia lalu keluar menuju dapur dan melihat kucing yang dibawa suaminya masuk di sudut dapur. Kucing itu menatap mata istri Mas Toni.
Satu hal kecil yang mampu mengubah sikap seseorang terhadap sesuatu yang sangat dibencinya. Tak pernah terpikirkan jika kucing liar yang baru pertama kali menginjak lantai rumah kontrakannya ternyata berperilaku bagus. Ia berak di dekat lubang WC sehingga dengan mudah kotoran itu bisa disiram dan hanyut ke lubang pembuangan air. Istri Mas Toni ia terdiam sejenak, lalu masuk ke kamar untuk melanjutkan mimpinya.
Pagi harinya, Mas Toni yang dikejutkan dengan permintaan maaf istrinya atas kecintaannya selama ini terhadap kucing. Mas Toni bersyukur dan sejak hari itu di rumah pasangan harmonis ini selalu ada kucing. Bahkan ketika keduanya memutuskan untuk tinggal di Tanjungpinang, ada lebih dari lima ekor kucing di dalam rumahnya. Mas Toni, dibantu istrinya merancang perabotan kamat tidurnya yang juga bisa digunakan untuk bermain kucing.
Sang istri pun menunjukkan rasa sayangnya kepada kucing. Dari sebuah benda bernama berak kucing, ada sebuah perubahan sikap yang baik... Selamat malam sahabat semua.
![]() |
F: ilustrasi/ahlipenyakit.com |
Hanya kasih sayang terdalam yang mampu membuat seseorang mau melakukannya. Kecuali kucing itu peliharaannya di rumah. Ia keluarkan uang dari kantongnya sendiri untuk biaya operasi kaki kucing tersebut. Namun kecintaannya terhadap kucing belum dimiliki istrinya.
Suatu malam, saat hujan turun Mas Toni keluar rumah, sekadar menikmati malam di teras rumah kontrakannya. Tiba-tiba dilihatnya seekor kucing kesulitan mendapatkan tempat berteduh. Rumah di mana Mas Toni mengontrak adalah kawasan permukiman padat yang tak menyisakan tempat bagi kucing kurang beruntung itu mendapatkan tempat berteduh. Atau andai ia berteduh lebatnya hujan akan membasahi bulunya.
Hujan sedang deras-derasnya malam itu. Dengan berlari kecil Mas Toni mengambil kucing itu. Lalu diletakkannya di teras rumah kontrakannya. Paling tidak kucing itu tak kehujanan di lorong. Namun, saat ia hendaj menutup pintu, kucing itu tak menghentikan suaranya yang mengeong-ngeong. Rasa iba mengalahkan keinginan lelaki yang kini bekerja sebagai desainer perabotan lepas ini untuk kembali mengangkat kucing tadi. Di dalam rumah, kucing itu dilap dengan kain yang sudah tak terpakai.
Istrinya yang belum tidur melihat apa yang dikerjakan suaminya menunjukkan raut muka masam. Melihat kucing saja tak suka, apalagi ada kucing di dalam rumahnya. Kebetulan istri Mas Toni adalah tipe istri yang suka membersihkan rumah. Dan ia sangat tak menginginkan ada kucing di rumah kontrakannya. Mendengar jawaban suaminya hanya karena kasihan ia membawa kucing itu masuk, sang istri bertanya mau ditaruh di mana kucing itu.
Mas Toni menjawab biarlah ia di dalam rumah asalkan tidak kehujanan. Di dapur pun tak apa, tambahnya. Kemarahan sang istri seketika muncul. Ia mengultimatum, jika sampai kucing itu berak di dalam rumah, Mas Toni harus menghentikan kecintaannya terhadap hewan bernama kucing.
Itu adalah sebuah peringatan yang tak bisa dianggap sepele. Karena Mas Toni memang menyukai segala jenis kucing. Ia nekat membawa kucing itu ke dapur lalu masuk ke kamar tidur untuk istirahat. Tak berapa lama, sang istri yang usai memberikan ultimatum ingin buang air kecil. Betapa terkejutnya ia melihat kotoran kucing di dalam kamar kecil keluarganya. Ia lalu keluar menuju dapur dan melihat kucing yang dibawa suaminya masuk di sudut dapur. Kucing itu menatap mata istri Mas Toni.
Satu hal kecil yang mampu mengubah sikap seseorang terhadap sesuatu yang sangat dibencinya. Tak pernah terpikirkan jika kucing liar yang baru pertama kali menginjak lantai rumah kontrakannya ternyata berperilaku bagus. Ia berak di dekat lubang WC sehingga dengan mudah kotoran itu bisa disiram dan hanyut ke lubang pembuangan air. Istri Mas Toni ia terdiam sejenak, lalu masuk ke kamar untuk melanjutkan mimpinya.
Pagi harinya, Mas Toni yang dikejutkan dengan permintaan maaf istrinya atas kecintaannya selama ini terhadap kucing. Mas Toni bersyukur dan sejak hari itu di rumah pasangan harmonis ini selalu ada kucing. Bahkan ketika keduanya memutuskan untuk tinggal di Tanjungpinang, ada lebih dari lima ekor kucing di dalam rumahnya. Mas Toni, dibantu istrinya merancang perabotan kamat tidurnya yang juga bisa digunakan untuk bermain kucing.
Sang istri pun menunjukkan rasa sayangnya kepada kucing. Dari sebuah benda bernama berak kucing, ada sebuah perubahan sikap yang baik... Selamat malam sahabat semua.
Post a Comment for "Kisah Kucing Berak"