Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kardus

Saat nurani hanya berkata kasihan. F-adly bara hanani
Kardus, kita tahu seperti apa bentuknya. Lazimnya dibuat dari apa. Ukurannya seperti apa saat dipakai untuk membungkus apa. Bahkan tak sedikit yang tahu di mana harus membeli kardus bekas ketika akan pindah rumah. Banyak juga yang tahu tempat menjual kardus bekas. Urusan kardus, sepertinya tampak mudah.

Ini juga kisah tentang kardus. Bedanya ini kisah kardus yang berjatuhan di sebuah jalan raya di Kota Tanjungpinang. Tentu tak semua orang menginginkan kejadian ini. Saat mengantarkan barang pesanan toko yang menjadi langganan bos, tiba-tiba kardus berjatuhan dari atas angkutan karena kurang kencang mengikatnya atau faktor lain. Lalu semuanya menjadi tontonan, termasuk aku.


Seorang lelaki berlari, menerobos padatnya lalulintas. Yakinlah, ia pasti takut menahan laju kendaraan lain. Jika dalam kondisi normal, mungkin sumaph serapah itu akan terlontar untuknya dari banyak pengguna jalan. Tanggung jawabnyalah yang membuatnya harus melakukan itu. Ia mengorbankan nyawanya untuk barang dagangan yang harus diantarnya. Sementara kita menjadi penonton, seolah menyaksikan tayangan film menarik di televisi dengan aktor yang mampu menyentuh hati saat akting.

Bukan satu kardus, melainkan setumpuk. Bertebaran di jalan raya. Seorang lelaki berpacu dengan waktu memungutnya. Sesekali ia mundur ketika sebuah kendaraan yang juga ingin cepat sampai tujuan ngebut di dekatnya. Terlihat betapa panik wajahnya. Kakinya bergerak lincah, bukan menari namun mengamankan barang yang harus dijaganya.

Jalan raya hari itu menjadi bukti bahwa kita punya kepedulian tipis terhadap sesama. Kita hanya mampu membiarkan orang lain melakukan apa yang menjadi urusannya. Memang bukan urusan kita. Dan tentu saja aku juga... yang hanya bisa menuliskannya di halaman ini. Entah siapa sebenarnya kita...

Post a Comment for "Kardus"