Angka Kecil untuk Orang Kecil
Sukarmanto tak pernah tahu sebidang tanahnya bakal menjadi perhatian banyak orang. Bukan hanya warga, melainkan juga pejabat. Bukan cuma pejabat kelas bawah, melainkan pejabat teras baik tingkat kota maupun provinsi. Ya, persoalannya hanya pada sebidang tanah miliknya yang dianggap membuat jalur jalan ke pusat perkantoran Pemprov Kepri di Dompak tak lurus. Harus berbelok sedikit karena terhalang tanahnya. Begitulah memang, tentu banyak yang menginginkan jalan aspal ke pusat pemerintahan ini halus, mulus, tak perlu berbelok-belok, apalagi kalau belokan karena tanah warga yang bertahan tak mau melepasnya.
Sebenarnya berita tentang belokan ini sudah beberapa kali diangkat wartawan ke media cetak lokal. Namun selama ini belum pernah ada keterangan dari pemilik tanah, ya Sukarmanto itu. Inti beritanya ya ucapan pejabat, harus diurus siapa pemilik lahannya biar jalan itu menjadi lempeng, lurus. Nah, belakangan Sukarmanto muncul dengan pengakuannya yang membuat terkejut. Rupanya sudah beberapa kali ia ditawari uang ganti rugi oleh pejabat yang dia sendiri lupa dari mana saja.
Sudah terlalu banyak yang menawarinya. Cuma satu yang dipertahankan Sukarmanto. Soal harga ganti rugi yang ditawarkan kepadanya. Ia mengaku hanya akan dibayar Rp50 ribu untuk satu meter tanahnya. Sukarmanto memang hanya pembuat batako, warga kecil yang masih bisa tenang melintasi belokan jalan dengan kendaraannya, bahkan jika jalan kaki harus berbelok membuat keringatnya lebih banyak keluar. Namun ia juga tahu, harga tanah di lokasi ini tak ada yang senilai itu. Sebuah perumahan yang lokasinya agak masuk saja jika dihitung per meternya mencapai Rp600 ribu. Dan survei Sukarmanto, untuk tanah di tepi jalan seperti miliknya minimal Rp800 ribu per meter, bahkan ada yang Rp1 juta per meter.
Teringat penggalan lagu Iwan Fals: mengapa kecil selalu kalah dan tersingkir, mengapa besar selalu menang. Ketika segala sesuatu dinilai celah untuk mendapatkan duit, lahan Sukarmanto pun bisa dipermainkan. Inilah yang diduga Sukarmanto, ia ditawari ganti rugi kecil sementara saat dilaporkan ke atasan nilainya membengkak. Semoga saja itu hanya anggapan Sukarmanto, atau jika benar ya sudah pertebal keyakinan di dalam hati kita, tak usah dijelek-jelekkan pejabat itu memang jelek.
Saat Sukarmanto menungguy keadilan, apa yang bisa kita perbuat?
HM Sadar dan Iskandarsyah di lahan Sukarmanto. F-taufik |
Sudah terlalu banyak yang menawarinya. Cuma satu yang dipertahankan Sukarmanto. Soal harga ganti rugi yang ditawarkan kepadanya. Ia mengaku hanya akan dibayar Rp50 ribu untuk satu meter tanahnya. Sukarmanto memang hanya pembuat batako, warga kecil yang masih bisa tenang melintasi belokan jalan dengan kendaraannya, bahkan jika jalan kaki harus berbelok membuat keringatnya lebih banyak keluar. Namun ia juga tahu, harga tanah di lokasi ini tak ada yang senilai itu. Sebuah perumahan yang lokasinya agak masuk saja jika dihitung per meternya mencapai Rp600 ribu. Dan survei Sukarmanto, untuk tanah di tepi jalan seperti miliknya minimal Rp800 ribu per meter, bahkan ada yang Rp1 juta per meter.
Sukarmanto memang orang kecil. Mungkin pejabat yang telah menemuinya hanya menganggap seseorang itu darim pakaiannya. Dari bentuk fisiknya. Dari pekerjaannya. Dan untuk warga ini mungkin saja Rp50 ribu dianggap pantas. Sudah hilang otak normal pejabat di tanah ini jika apa yang disampaikan Sukarmanto benar adanya. Padahal ia berterus terang, tak ingin menghalang-halangi pembuatan jalan ke arah pusat pemerintahan Provinsi Kepri lurus halus bahkan jika mperlu tanpa goyangan ban pejabat yang naik kendaraan mahal mengkilap. Ia mendukung upaya itu. Namun ia juga tahu, jika tanahnya dihargai seperti itu ia tak tahu lagi akan mengalihkan usahanya ke mana. Untuk menyewa lahan baru saja tak cukup, apalagi membayar beberapa pekerjanya, jika ia memiliki pekerja.
Teringat penggalan lagu Iwan Fals: mengapa kecil selalu kalah dan tersingkir, mengapa besar selalu menang. Ketika segala sesuatu dinilai celah untuk mendapatkan duit, lahan Sukarmanto pun bisa dipermainkan. Inilah yang diduga Sukarmanto, ia ditawari ganti rugi kecil sementara saat dilaporkan ke atasan nilainya membengkak. Semoga saja itu hanya anggapan Sukarmanto, atau jika benar ya sudah pertebal keyakinan di dalam hati kita, tak usah dijelek-jelekkan pejabat itu memang jelek.
Saat Sukarmanto menungguy keadilan, apa yang bisa kita perbuat?
Post a Comment for "Angka Kecil untuk Orang Kecil"